Latest Post

CONTOH MENGHITUNG KEBUTUHAN DAK BETON

Cor dak beton - Sumber Gbr : Google
Pada kesempatan kali ini, saya mencoba untuk sedikit menguraikan perhitungan kebutuhan material dak lantai beton yang akan di hitung secara konvensional dengan menggunakan material perancah bambu, bekisting triplek, pemasangan besi dan pengecoran di tempat, perhitungan sederhana ini biasanya masih di pergunakan di beberapa daerah dan masih dianggap sebagai pilihan utama dalam pelaksanaan pekerjaan pengecoran dak lantai beton.

Sebagai contoh dan sekaligus menjawab pertanyaan yang masuk ke email kami, ukuran untuk pengecoran dak lantai beton adalah 3.00 m x 6.00 m = 18.00 m², dengan ketebalan dak beton = 12 cm. Dari dimensi tersebut, berapakah kebutuhan semen, pasir, split, besi, triplek dan bambu..?

Berikut adalah contoh perhitungan secara sistem konvensional yang umum di pakai di beberapa daerah.
Luasan dak beton adalah = 3.00 x 6.00 = 18.00 m²
Volume dak beton, tebal 12cm = 18.00 x 0.12 = 2.16m³  (tidak termasuk balok beton)
Pembesian menggunakan besi Ø10mm jarak 20cm (2 lapis),
Mutu beton menggunakan mutu K.300

Uraian Perhitungan Besi

Biasanya pada tulangan besi, pada setiap ujung tulangan selalu ditekuk 5 -10cm, sesuai kebutuhan di lapangan. (sebahgai contoh, kita ambil 5 cm untuk tekukan ujung)

Besi bentangan 3.00m adalah : 6.00 / 0.20 = 30 batang + 1 batang penutup = 31 batang, jadi pembesian bentang 3.00m adalah : 3.10m x 31 batang = 96.1 m.
Kebutuhan untuk 2 lapis : 96.10m x 2 lapis = 192.20 m
Jika panjang besi 12.00m/batang maka : 192.20m / 12m = 16,03 batang

Besi bentangan 6.00m adalah : 3.00 / 0.20 = 15 batang + 1 batang penutup = 16 batang, jadi pembesian bentang 6.00m adalah : 6.10m x 16 batang = 97.6 m.
Kebutuhan untuk 2 lapis : 97.60m x 2 lapis = 195.20 m
Jika panjang besi 12.00m/batang maka : 195.20m / 12m = 16,27 batang

Maka, total kebutuhan besi untuk dak beton adalah 16.03 + 16,27 = 32,30 batang
Atau sekitar 33 s.d 34 batang besi Ø 10mm.

Uraian Perhitungan Beton

Untuk perhitungan kebutuhan beton dengan mutu K.300, saya akan mencoba dengan menggunakaan koefisian SNI, untuk mengetahui koefisien dari mutu beton lain silahkan klik (DISINI)

Koefisien mutu beton K.300 untuk 1 m³ adalah:
Semen PC : 413 Kg/m³ (apabila 1 zak semen @ 50kg) = 413 / 50 = 8.26 zak
Pasir Pasang :  681 Kg/m³ (Bj. Pasir = 1400 Kg) = 681 / 1400 = 0.486 m³
Pasir Split :  1,021 Kg/m³ (Bj.Split = 1800 Kg) = 1021 / 1800 = 0.567 m³
Air : 215 liter/m³
Untuk mengetahui daftar berat jenis material lain dapat di lihat disini (KLIK)

Apabila untuk kebutuhan contoh diatas adalah dengan volume 2.16 m³, maka kebutuhan:
Semen : 2.16 x 8.26 zak = 17.84 zak atau 18 zak semen.
Pasir : 2.16 x 0.486 = 1.05 m³ pasir
Split : 2.16 x 0.567 = 1.22 m³ split

Uraian Perhitungan Bekisting

Ukuran multiplek 8 mm adalah 1.20m x 2.40m, = 2.88 m² per lembar (luasan)
Jika luasan dak beton 3.00x6.00 = 18.00 m²,
Kebutuhan sisi samping multiplek adalah = (3+6+3+6) x 0.12 = 2.16 m² maka di butuhkan multiplek sebanyak :
Multiplek : (18.00 +2.16) / 2.88 = 7 lembar multiplek,

Kebutuhan bambu dapat di pasang setiap jarak 50cm (biasanya diperlukan 2 batang bambu dalam 1 m², akan tetapi kita harus melihat terlebih dahulu tinggi dari dak beton terhadap permukaan lantai)
Kawat Bendrat dan Paku di pergunakan secukupnya sesuai kebutuhan.

Note:
Kebutuhan di atas adalah untuk kebutuhan Plat dak beton, belum termasuk perhitungan struktur.

Demikian perhitungan kebutuhan dak beton secara konvensional, jika ada koreksi atau masukan, silahkan tulis di kolom komentar dibawah postingan ini.

Terimakasih telah membaca, apabila bermanfaat silahkan di Share.


 
Reaksi: 

CURING BETON - METODE PERAWATAN BETON

Curing Beton, Perawatan Beton - Sumber Gbr : Google
Perawatan beton atau kita sering dengar dengan istilah “Curing” adalah salah satu tahapan yang cukup penting setelah selesai pengecoran. Curing dilakukan pada saat beton mulai mengeras ”fase hardening”, curing ini dilakukan betujuan untuk menjaga beton agar tidak terlalu cepat kehilangan unsur air yang menguap atau bisa di katakan untuk menjaga kelembaban / suhu beton, sehingga beton yang kita buat sesuai dengan mutu yang di rencanakan.

Pelaksanaan Curing atau Perawatan beton biasa dilakukan setelah beton memasuki fase hardening (atau permukaan beton yang terbuka), atau setelah bekisting / cetakan beton dibuka/ dibongkar dari waktu yang telah di tentukan dengan bertujuan untuk memastikan terjaganya kondisi beton yang diperlukan untuk proses reaksi kimia yang terkandung dalam campuran beton.

Dikutip dari lauwtjunnji.weebly(dot)com,  Tujuan pelaksanaan curing adalah untuk memastikan reaksi hidrasi senyawa semen termasuk bahan tambahan atau pengganti supaya dapat berlangsung secara optimal sehingga mutu beton yang diharapkan dapat tercapai, dan menjaga agar tidak terjadi susut yang berlebihan pada beton yang dapat mengakibatkan kehilangan kelembaban yang terlalu cepat atau tidak seragam, sehingga dapat menimbulkan atau menyebabkan retak / keretakan.

Ada beberapa peraturan yang menerapkan acuan pelaksanaan atau metode pelaksanaan Curing / Perawatan Beton atau standarisasi dari Pelaksanaan tersebut, baik itu dari SNI, ASTM dan ACI.

Menurut SNI 03-2847-2002 (Standar Nasional Indonesia) menyatakan:
Curing selama 7 (tujuh) hari untuk beton normal
Curing selama 3 (tiga) hari untuk beton dengan kuat tekan awal tinggi

Menurut ASTM C-150 (American Society for Testing Materials) menyatakan:
Semen type I, waktu minimum curing 7 (tujuh) hari
Semen type II, waktu minimum curing 10 (sepuluh) hari
Semen type III, waktu minimum curing 3 (tiga) hari
Semen type IV, waktu minimum curing 14 (empat belas) hari

Menurut ACI 318 (American Concrete Institute) menyatakan:
Sampai tercapai minimum 70% kuat tekan beton yang disyaratkan (fc’)

Metode Perawatan Beton
Ada beberapa metode curing beton yang sering kita saksikan ataupun kita lakukan diantaranya;
Menyimpan beton segar dalam ruangan yang lembab, biasanya dilakukan untuk benda uji beton.
Menutup atau menyelimuti permukaan beton dengan bahan yang dapat mengurangi penguapan air - dan di basahai secara berkala, misalnya menggunakan geotekstile,
Merendam permukaan beton dengan air (ini biasanya di temukan pada jalan beton / rigid)
Membungkus beton dengan bahan yang dapat menahan penguapan air, misanya menggunakan plastik atau bahan lain.
Menggunakan curing compound, adalah material khusus untuk perawatan beton

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam pelaksanaan curing,
Menjaga Suhu beton di suhu normal selama curing antara : min 10˚C atau 50˚F, max 28˚C atau 80˚F
Pelaksanaan curing yang tidak tepat akan sangat merugikan dan mengurangi mutu yang diharapkan, selain itu dapat menimbulka potensi keretakan dan penurunan kuat tekan beton.


Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat dan silahkan SHARE.
 
Reaksi: 

TABEL ANALISA KOEFISIEN PASANGAN BATAKO

Analisa Batako, Sumber Gbr : Google
Pada artikel sebelumnya, saya telah memposting Tabel Koefisien  Pasangan Bata Merah dan Tabel Koefisien Pasangan Bata Ringan secara terpisah. Hal ini saya lakukan, di karenakan untuk memudahkan sub bagian dari kebutuhan pembaca “anda” agar memudahkan dalam pencarian yang di maksud. Pemasangan dinding batako adalah salah satu item yang penting dalam pembangunan, pada bangunan sederhana dinding batako berfungsi sebagai struktur penyangga beban bangunan dan sebagai partisi atau pembatas antar ruangan, sedangkan dalam bangunan bertingkat pasangan bata hanya berfungsi sebagai partisi pembatas.

Yang dimaksud dengan pasangan bata “1/2 bata” adalah, tebal dinding tembok tersebut sama dengan panjang ½ bata. Sedangkan yang dimaksud pasangan bata “1 bata” adalah, tebal dinding tembok tersebut sama dengan panjang 1 bata.
Berikut adalah tabel Analisa Koefisien pasangan batako yang sering di pakai untuk metode perhitungan analisa kebutuhan pasangan Batako sampai dengan saat ini.

TABEL ANALISA KOEFISIEN PASANGAN BATA MERAH “TEBAL PASANGAN  ½  BATAKO”
Pasangan Untuk Kebutuhan 1 m²
N0
JENIS CAMPURAN
KEBUTUHAN BAHAN
TENAGA KERJA
SEMEN (Kg)
Pasir Pasang (M³)
Kapur (M³)
Batako (Bh)
Pekerja (OH)
Tukang Batu (OH)
Kepala Tukang (OH)
Mandor (OH)
1
Campuran 1:3
Uk. Batako 10x20x40
3,00
0,0070
X
11
0,300
0,100
0,010
0,015
2
Campuran 1:4
Uk. Batako 10x20x40
2,40
0,0075
X
11
0,300
0,100
0,010
0,015
3
Campuran 1:5
Uk. Batako 10x20x40
2,02
0,0080
X
11
0,300
0,100
0,010
0,015
4
Campuran 1:6
Uk. Batako 10x20x40
1,74
0,0086
X
11
0,300
0,100
0,010
0,015
5
Campuran 1:8
Uk. Batako 10x20x40
1,36
0,009
X
11
0,300
0,100
0,010
0,015
­
Analisa koefisien ini hanya sebagai acuan saja untuk memperhitungkan rata-rata kebutuhan material pasangan batako. Tentunya harus disesuaikan lagi dengan gambar rencana pada gambar yang akan di laksanakan.


Terimakasih, semoga bermanfaat.
 
Reaksi: 

APA ITU BETON MIX / BETON INSTAN...?

Beton Instan - Sumber Gbr: arthopodhomoro
Apa itu  “Beton Instan”,?...
Beton instan ataupun beton mix adalah campuran beton yang terdiri dari semen, pasir, agregat, dan aditif. Beton instan adalah salah satu pilihan terbaik bagi anda apabila area lokasi kerja sangat terbatas yang tidak memungkinkan penempatan material bahan baku yang terlalu banyak.

Bahan beton ini dalam pengemasannya yang di jual di pasaran biasanya per-zak atau per karung 40kg atau 50kg, dan aplikasi untuk pengerjaannya pun tergolong sangat mudah, hanya dengan menambahakan prosentase air dalam pengadukannya sesuai dengan ketentuan mutu beton yang tertera dalam beton instan tersebut.

Produk beton kering ini bisa anda gunakan pada type rumah sederhana untuk pembetonan lantai kerja, kolom, ataupun balok, yang tentunya memesan dengan mutu beton yang diinginkan. Mutu beton yang tersedia di pasaran cukup beragam mulai dari mutu K-175 sampai dengan mutu K-500, bahkan dari setiap produsen beton instan atau beton kering ini mempunyai mutu beton khusus sesuai dengan permintaan dari pemesan.

Berikut adalah beberapa keunggulan dari Beton Instan :



  1. Bentuknya yang praktis (dalam bentuk karung atau zak) sehingga memudahkan penyimpanan stock sebelum pelaksanaan kerja di mulai. 
  2. Penggunaan nya mudah, hanya di tambah air untuk aplikasinya, biasanya membutuhkan 4 – 5 liter air untuk pengadukan, atau disesuiakan dengan ketentuan yang di sarankan. 
  3. Dalam pengaplikasian bisa lebih mudah dan cepat dalam proses pengadukan sampai terjadi adukan homogen 
  4. Mutu lebih terjamin, karena pengadukan dan campurannya beton instan tersebut rata-rata seuai jobmix dari SNI. 
  5. Lebih cepat dalam mengejar mutu, biasanya mutu yang di dapat dalam 3 hari dengan kuat tekan berkisar 40%, 7 hari berkisar 70 - 80% dari jenis masing2 mutu beton.



Itulah sekilas dari beton instan/ beton kering/ beton mix, semoga bermanfaat dan silahkan di share..
 
Reaksi: 

Standart Pedoman SNI ASTM dan ACI untuk Beton Bertulang

SNI - ASTM - ACI, Sumber Gbr : Google
Biasanya dalam perencanan struktur beton bertulang, setelah di hitung daya atau beban bangunan di tentukan juga standart mutu beton berdasarkan pedoman SNI atau ASTM atau ACI, pedoman dari setiap standarisasi inilah yang menjadi rujukan dalam aplikasi pelaksanaan beton bertulang. Untuk mendapatkan pedoman standarisasi tersebut, anda dapat mengunjungi dinas PU atau BSNi Badan Standar Nasional Indonesia yang terdekat di kota anda atau pun dengan cara mendownload file tersebut jika tersedia pada websitenya masing-masing.

Pedoman menurut SNI – Standart Nasional Indonesia
1
SNI 03-1968-1990
Metode pengujian tentang analisis saringan agregat halus dan kasar
2
SNI 03-1972-1990
Metode pengujian slump beton
3
SNI 03-1973-1990
Metode pengujian berat isi beton
4
SNI 03-1974-1990
Metode pengujian kuat tekan beton
5
SNI 03-2460-1991
Spesifikasi abu terbang sebagai bahan tambahan campuran beton
6
SNI 03-2491-1991
Metode pengujian kuat tarik belah beton
7
SNI 03-2493-1991
Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di laboratorium
8
SNI 03-2495-1991
Spesifikasi bahan tambahan untuk beton
9
SNI 03-2816-1992
Metode pengujian kotoran organik dalam pasir untuk campuran mortar dan beton
10
SNI 03-3403-1994
Metode pengujian kuat tekan beton inti pemboran
11
SNI 03-3418-1994
Metode pengujian kandungan udara pada beton segar
12
SNI 03-3976-1995
Tata cara pengadukan dan pengecoran beton
13
SNI 03-4141-1996
Metode pengujian gumpalan lempung dan butur-butir mudah pecah dalam agregat
14
SNI 03-4142-1996
Metode pengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos dalam saringan No.200 (0,075 mm)
15
SNI 03-4156-1996
Metode pengujian blinding dari beton segar
16
SNI 03-4433-1997
Spesifikasi beton siap pakai
17
SNI 03-4806-1998
Metode pengujian kadar semen portland dalam beton segar dengan cara titrasi volumetri
18
SNI 03-4807-1998
Metode pengujian untuk menentukan suhu beton segar semen portland
19
SNI 03-4808-1998
Metode pengujian kadar air dalam beton segar dengan cara titrasi volumetri
20
SNI 03-4810-1998
Metode pembuatan dan perawatan benda uji beton di lapangan
21
SNI 03-2834-2000
Tata cara rencana pembuatan campuran beton normal
22
SNI 03-6429-2000
Metode pengujian kuat tekan beton silinder dengan cetakan silinder didalam tempat cetakan
23
SNI 03-2492-2002
Metode pengambilan dan pengujian beton inti
24
SNI 03-6817-2002
Metode pengujian mutu air untuk digunakan dalam beton
25
SNI 03-6889-2002
Tata cara pengambilan contoh agregat
26
SNI 15-0129-2004
Semen portland putih
27
SNI 15-0302-2004
Semen portland pozzolan
28
SNI 15-2049-2004
Semen portland
29
SNI 15-7064-2004
Semen portland komposit
30
SNI 1972:2008
Cara uji slump beton
31
SNI 1973:2008
Cara uji berat isi, volume produksi campuran dan kadar udara beton
32
SNI 2417:2008
Metode pengujian keausan agregat dengan mesin Los Angeles
33
SNI 2458:2008
Metode pengambilan contoh untuk campuran beton segar


Pedoman menurut ASTM – American Society for Testing and Materials
1
ASTM C 403-90
Time of setting of concrete mixtures by penetration resistance 
Waktu pengaturan campuran beton dengan daya tahan penetrasi
2
ASTM C 33-93
Standart specification for concrete agregates 
Spesifikasi standart untuk agregat beton
3
ASTM C 989-95
Spesification for ground granulated blas furnace slag for use in concrete and mortars 
Spesifikasi untuk ground slas furnace slas untuk digunakan dalam beton dan mortar


Pedoman menurut ACI – American Concrete Institute
1
ACI 363R-92
State of the art on high strength concrete
Karya seni dalam beton kekuatan tinggi
2
ACI 305R-99
Hot weather concreting
Suhu/ Cuaca panas pada beton

Terimakasih sudah membaca artikel ini, semoga bermanfaat, dan silahkan di share.
 
Reaksi: 
 
Support : Creating Website | TMYBeton | Akka Miftah
Copyright © 2017 TMYBeton - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Akka Miftah
Proudly powered by Blogger